Ibu-Ibu Kedungringin Bangkit Lewat Canting: Bakat Lama, Nafas Baru
Pasuruan — Suasana hangat penuh semangat terasa di Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, pada Selasa (13/05/2026). Puluhan ibu-ibu desa berkumpul mengikuti pelatihan membatik yang digelar sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat desa.
Kegiatan ini bukan sekadar belajar mencanting kain. Lebih dari itu, ini adalah ruang untuk menggali kembali bakat-bakat yang selama ini terpendam—bakat yang mungkin dulu tertunda oleh waktu, oleh kesibukan dapur, oleh rutinitas yang tak pernah usai.


Kepala Desa Kedungringin, Rizki Wahyuni, SH, menyampaikan rasa syukurnya atas antusiasme peserta. Ia melihat langsung bagaimana semangat para ibu-ibu tumbuh, satu garis lilin demi satu motif yang perlahan hidup di atas kain.
“Saya sangat bersyukur. Ternyata banyak ibu-ibu di desa kita yang punya bakat terpendam. Dengan adanya pelatihan ini, mereka bisa mengembangkan kemampuan sekaligus membuka peluang ekonomi,” ujarnya.
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal. Bukan cuma berhenti di keterampilan, tapi bisa berlanjut menjadi produk unggulan desa. Kalau serius digarap, batik Kedungringin bukan mustahil jadi identitas baru—dari desa, untuk pasar yang lebih luas.
Di sudut ruangan, terlihat tangan-tangan yang awalnya ragu kini mulai mantap. Tetes lilin panas berubah jadi pola. Dari yang sederhana, menuju yang bernilai. Dari kegiatan kecil, menuju harapan besar.
Karena kadang, perubahan itu nggak datang dari hal besar dulu—
tapi dari canting kecil yang digerakkan dengan tekad besar.
i